WHI: 37% Anak Pendek Berpotensi Menjadi Beban Pembangunan Indonesia

Contoh lain adalah sanitasi total berbasis masyarakat di Pegunungan Tengah Jayawijaya. Menggunakan bahan lokal berupa abu tungku, masyarakat Desa Manda dan Desa Air Garam bergerak membuat toilet sehingga praktik buang air besar sembarangan bisa dieliminasi. Inisiatif ini berkontribusi menurunkan angka kematian balita akibat diare dalam waktu kurang lebih satu tahun.

Inisiatif baik yang digerakkan tokoh-tokoh perubahan ini mendapat apreasiasi gelar Community Heroes dari Wahana Visi Indonesia pada acara Aksi Gizi yang menjaring ribuan pengunjung Monas. Acara Aksi Gizi dikemas secara menarik dengan membuka sarana edutainment labirin 1000 hari pertama kehidupan anak, pojok bermain anak, konseling laktasi, konseling MPASI, dan pembagian buklet gizi.

Buklet ini bisa diunduh di link http://bit.ly/buku-gizi. Kehadiran setiap orang dalam acara Aksi Gizi ini akan diperhitungkan sebagai dukungan pembangunan pro anak, khususnya pada aspek perbaikan gizi dan pencegahan kematian balita yang akan disampaikan dalam sidang umum PBB melalui mitra global Wahana Visi Indonesia yaitu World Vision Internasional.

Wahana Visi Indonesia, mitra World Vision, adalah organisasi kemanusiaan yang memfokuskan pelayanannya bagi peningkatan kesejahteraan anak-anak. Wahana Visi berjuang untuk menghadirkan transformasi berkelanjutan pada kehidupan anak-anak, keluarga, dan komunitas yang paling rentan melalui program-program pengembangan dan pemberdayaan, advokasi, dan tanggap bencana.

Pelayanan Wahana Visi Indonesia dijalankan sejak 1995 dan kini mencakup 55 kabupaten/kota di 9 provinsi yang terbentang dari Sumatera hingga Merauke, termasuk Wamena. Untuk mengetahui lebih jauh tentang Wahana Visi Indonesia, silakan mengakses situs www.wvindonesia.org.

Untuk informasi lebih lanjut tentang program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di wilayah dampingan Wahana Visi Indonesia, silakan menghubungi: priscilla_christin@wvi.org.

Leave a Reply