WHI: 37% Anak Pendek Berpotensi Menjadi Beban Pembangunan Indonesia

Risiko ini akan mempengaruhi kontribusi mereka terhadap pembangunan Indonesia. Tantangan tersebut bisa dijawab dengan memastikan asupan gizi anak yang seimbang pada 1000 hari pertama kehidupan. 1000 hari pertama kehidupan (HPK) merupakan gerakan upaya percepatan gizi yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 2012. Berbagai kementrian termasuk Kementrian Kesehatan dan segenap lembaga kemanusiaan ikut berperan aktif dalam mendukung gerakan ini. Batas toleransi dunia mengenai angka anak pendek di sebuah negara adalah 20%, sedangkan kondisi Indonesia telah melampaui batas tersebut dan Indonesia berada di urutan ke lima negara dengan jumlah anak pendek terbanyak di dunia setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan.

“Kami mengapresiasi Aksi Gizi Wahana Visi yang sejalan dengan Gerakan 1000 HPK pemerintah Indonesia. Dukungan dari berbagai pihak untuk melakukan percepatan perbaikan gizi akan berkontribusi menurunkan angka kematian anak. Kami berharap semakin banyak pihak yang menyadari pentingnya 1000 hari pertama kehidupan anak bergerak bersama menciptakan generasi penerus Indonesia dengan kesehatan berkualitas,” ungkap Ibu Nila Moeloek, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Wahana Visi percaya bahwa intervensi tepat sasaran kepada pihak yang paling membutuhkan bisa menjadi jawaban bagi perbaikan gizi anak Indonesia. Beberapa contoh kegiatan yang terbukti berhasil meningkatkan kualitas gizi anak di pelosok Indonesia antara lain kebun gizi di Sikka, NTT, yang merupakan daerah pantai. Wahana Visi dan kader Posyandu mengajak orangtua menanam sayur dan buah-buahan di halaman rumah menggunakan kaleng bekas berisi tanah subur. Hasil kebun bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak dan rumah tangga.

Leave a Reply