Tips Menghadapi si Toddler

Kenapa anak 1-3 tahun sering juga disebut sebagai toddler? Menurut salah satu referensi, istilah toddler berarti anak yang baru belajar berjalan; berasal dari kata to toddle yang artinya berjalan tidak stabil, sebagaimana halnya tahap perkembangan anak pada usia tersebut.

Untuk orangtua, masa usia anak 1-3 tahun, bisa jadi adalah salah satu masa yang paling menantang (terutama untuk yang anak pertama) sekaligus masa-masa yang paling seru karena si toddler lagi lucu-lucunya, kan, ya.

10 hal berikut ini adalah rangkuman informasi yang kami anggap penting bagi orangtua si toddler. Let’s love our toddler better 😀 

1.    Makan

Yang terpenting: Beri anak pengalaman merasakan lapar dan kenyang. Hal ini akan berkaitan dengan kemampuan self-regulation-nya, ketrampilan penting untuk kehidupannya kelak. Kenapa? Simak di >> Kok Udah Kenyang, ‘Kan Baru Sedikit 

 2.    Waktu

Untuk memiliki hubungan yang baik dengan orang lain maka diperlukan kualitas dan kuantitas interaksi yang baik. Dan menjadi ratusan kali lebih ketika orang lain itu adalah anak kita. Dan menjadi ribuan kali lebih penting ketika anak tersebut berusia 0-2 tahun. Kenapa? Cek ini >> Quality Time atau Quantity Time dan simak juga >> Ibu Bekerja: Manajemen Waktu (dan Perasaan)

3.    Toilet Training

Pastikan masa ini tidak berbarengan dengan tantangan lain yang harus dilalui anak, misal: menyapih, pindah rumah, dll. Toilet training adalah tentang “tahapan”. Kecepatan keberhasilan dalam toilet training tergantung pada temperamen anak, tapi juga sangat bergantung pada sikap orangtua. Tahapan toilet training, cek di sini >> Toilet Training. Oiya, ada posternya juga, bisa diunduh dan simpan di handphone ortu dan pengasuh sebagai reminder >> Poster Toilet Training

4.    Kemampuan Bicara

Kalau kita sering bertanya-tanya, kenapa ada ibu yang banyak bicara dengan kandungannya, atau terus-menerus mengajak bayinya ngobrol padahal baru lahir, dan bahkan membacakan koran untuknya meski bayi nampak tidak mengerti? Stimulus-stimulus tersebut tentunya memiliki efek yang baik untuk anak, selain juga memperat bonding. Namun, tak sedikit orangtua khawatir anaknya mengalami keterlambatan bicara atau speech delay. Apa saja tandanya? Cek di sini. >> Speech Delay

5.    Sabar

Anak usia 1-3 tahun bisa jadi adalah guru sabar yang terbaik. Apalagi, orangtua tidak mendapatkan pendidikan formal khusus untuk mata pelajaran ini 😀 Sabar mungkin adalah saran paling klise dan membosankan yang bisa diberikan kepada orangtua, tapi salah satu yang paling manjur dan menolong. Karena, marah itu bukan dilarang, tapi bukan opsi terbaik dan bisa jadi fatal. Kenapa? Simak di sini >> Tentang Marah-Marah

6.    Disiplin

Disiplin untuk anak untuk usia 1-3 tahun banyak terkait dengan rutinitas sehari-hari seperti: mandi, tidur, makan, yang tak jarang juga menjadi tantangan harian buat orangtua. Disiplin, terutama di masa awal kehidupan anak, adalah tentang melakukan kebiasaan baik. Tentunya, kelak kita tidak ingin anak kita hanya mau disiplin saat ada orang lain yang mengawasi atau mau disiplin hanya saat mendapat imbalan. Pastikan sikap kita membantu anak untuk memiliki disiplin atas dorongan diri sendiri dan bukan karena dorongan faktor eksternal. Bisa dimulai dari usia 1-3 tahun? Tentunya. Simak cara menerapkan positive discipline di sini.

7.    Power Struggle

Pernahkah setelah keras-keras mengatakan TIDAK pada anak lantas anak mengeluarkan “senjata” pamungkasnya yaitu: menangis lebih keras, berteriak lebih kencang, dst, lalu kita juga bersikukuh dengan bersuara lebih keras lagi? Ini yang dimaksud dengan power struggle. Anak dan orangtua saling unjuk gigi, siapa yang paling berkuasa dalam sebuah situasi. Kondisi ini sebenarnya tidak kondusif untuk orangtua. Bagaimana menghindarinya? Klik di: Adu Kuat Ortu-Anak, Siapa Menang? Dan apa saja pilihan lain untuk kata TIDAK, kata yang biasanya membuat anak seketika meradang, klik: Alternatif untuk Tidak.

8.    Penggunaan gadget

Melarang anak sama untuk sama sekali tidak menggunakan gadget di masa sekarang ini mungkin adalah salah satu hal tersulit untuk dilakukan, walau bukan berarti mustahil. Paparan anak terhadap gadget yang ada di sekelilingnya sangat tinggi. Padahal, terutama untuk anak usia 1-3 tahun, paparan pada layar yang berlebihan sangat tidak direkomendasikan. Pastikan kita memiliki kesepakatan pembatasan penggunaan gadget. Kesepakatan ini bisa dimulai sejak anak usia 1-3 tahun dan berlanjut di tahapan usia selanjutnya. Simak kesepakatan yang bisa diterapkan, klik di: Kesepakatan Pemakaian Gadget.

9.    Tentang Sekolah 

Pendidikan dalam arti luas berarti memberikan anak kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya. Orangtua sebagai guru pertama anak memberikan berbagai stimulus yang mendukung anak untuk belajar sehingga mencapai tujuan pendidikan. Parenting Educatio Guide Book (UNESCO) menyebutkan, anak direkomendasikan untuk mendapatkan early childhood education yang baik (yang programnya tidak fokus pada akademis). Early childhood education yang baik akan mendukung anak untuk terlibat dalam aktivitas yang menarik dan menantang bagi anak dan akan berguna untuk tahapan pendidikan di jenjang berikutnya. Lalu perlukah anak usia 1-3 tahun sekolah? Simak lengkapnya: Bayi Sekolah, Perlukah? dan Pertama Sekolah, Kok Nangis?

10.  Pendidikan seksualitas

Seks adalah sesuatu yang alamiah, namun perilaku seks yang bertanggungjawab adalah hasil belajar. Dari mana anak belajar tentang seksualitas? Berawal dari rumah, dan pendidikan seks tidak diberikan dengan menunggu anak bertanya. Anak usia 1-3 tahun bisa mendapatkan pendidikan seksualitas yang tepat untuk usianya. Caranya, simak beberapa tips ini: Sex Education: What to Say, What to Do dan 10 Sikap Orangtua yang Tidak Mendukung Pendidikan Seksualitas

 

Leave a Reply