Salah Kaprah Seputar Pola Makan Anak

Salah kaprah 1: Apabila tidak dipaksa anak tidak akan makan karena mereka akan memilih main. 

Penjelasan: Pemaksaan pada anak dalam bentuk apa pun hanya memberikan manfaat jangka pendek yaitu kepatuhan sesaat. Saat anak dipaksa makan, ia tidak belajar hal yang utama yaitu pentingnya kemandirian dan kebiasaan makan yang baik untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Memaksa menjadi mekanisme yang dianggap normal oleh anak dan orangtua, ketika berulang, makan menjadi pola yang tidak sehat. Anak akan melihat makan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Hal yang sama juga berlaku bila kita menggunakan reward dalam menghadapi masalah makan anak.

Salah kaprah 2: Anak belum mengerti lapar dan kenyang, saat anak menyatakan kenyang, orangtua perlu meragukan pernyataan anak. 

Penjelasan: Tubuh anak memiliki mekanisme untuk tidak membiarkan dirinya kelaparan. Saat anak menyatakan kenyang, tunjukkan pada anak bahwa kita mempercayainya dan simpan keraguan kita sebagai “alarm” untuk mengingatkan kembali pada anak dalam rentang waktu tertentu. Perhatikan asupannya secara keseluruhan, apakah saat menyatakan kenyang, ia telah mengonsumsi makanan kecil atau minuman tertentu sebelumnya. Saat anak menyatakan kenyang, lihat kebutuhan anak yang ia kemas dalam pernyataan “kenyang” tsb, misalnya: sedang asik bermain, menghindari paksaan makan, menghindari menu tertentu.

Kenalkan anak dengan cara yang tepat tentang merasa lapar dan merasa kenyang, agar ia mengenali alarm tubuhnya dengan baik. Caranya adalah dengan memberikan kesempatan dan kepercayaan anak mengatur menu, porsi dan jadwal makannya serta meminimalisir intervensi orangtua yang tidak perlu

 Salah kaprah 3: Anak hanya suka makanan tertentu, ikuti saja karena hal itu tidak masalah daripada tidak makan sama sekali. 

Penjelasan: Sebagaimana orang dewasa yang tak jarang bosan dengan menu tertentu, anak pun mengalaminya. Tentunya anak akan bosan jika hanya menyantap menu tertentu dalam rentang waktu yang lama. Penting untuk anak merasakan berbagai jenis makanan dengan komposisi gizi yang seimbang, juga dari segi rasa maupun tekstur. Jika anak hanya menyukai menu tertentu, temukan problem utamanya. Apakah ada kekhawatiran mencoba makanan baru? Khawatir harus menghabiskannya? Khawatir harus menyukai makanan tersebut? Sebagian besar masalah makan pada anak, berkait dengan kebiasaan dan cara yang tidak tepat, bukan tentang makanannya atau kondisi fisik anak.

Leave a Reply