Bra Menyusui: Oh, Banyaknya Pilihan-Pilihan Itu …

Sebelum cerita panjang lebar, mau pengakuan dulu: bra menyusui yang udah kumal, atau mbladus dalam bahasa Jawa slank, enak banget dipakai yaaa 🙂 Terutama buat tidur dan kalau saya, kadang dipakai pergi juga, apalagi kalau badan lagi pengen ngerasa serba ‘longgar’, dan karena kehidupan udah cukup ketat, kan. Hahaha.

Bra menyusui, mungkin bisa dinobatkan sebagai salah satu gear atau alat bantu menyusui yang paling terpakai. Dari awal menyusui (atau bahkan mulai dari masa akhir kehamilan) sampai selesai menyusui dan malahan masih dipakai setelahnya.

Pas anak pertama dulu (6,5 tahun lalu), saya nggak nemu bra menyusui yang berkawat, adanya yang tanpa kawat. Awalnya nggak biasa, karena sebelumnya bertahun-bertahun selalu pakai bra yang berkawat. Dan pas saya beli dulu, nggak nemu bra menyusui yang “cakep”. Semua modelnya standar, dan terlihat seperti bra eyang saya :)) Adanya yang warnanya krem itu aja, dan bentuknya pun nggak banyak pilihan. Mungkin sebenarnya ada, tapi saya kurang survei aja.

Padahal, rasanya pengen banget pakai bra yang cantik gitu, walau yang lihat cuma si bayi (dan sesekali ayahnya :p) tapi kalau pakai bra yang cantik jadi “feel good”, apalagi setelah melahirkan rasanya badan masih agak amburadul, kan, ya 🙂

Tapi lebih dari sekedar cakep tadi, tentunya yang lebih penting adalah bra yang cocok untuk kita, dan yang utama perhatikan keamanannya terutama yang berkaitan dengan kesehatan. Pas masa awal menyusui, saat produksi ASI sedang kenceng-kencengnya, disarankan untuk nggak pakai bra yang terlalu ketat, atau kencang, nggak sedikit juga yang menyarankan untuk nggak pakai bra sama sekali, toh bolak-balik dibuka juga.

Tentang nggak pakai bra yang kencang ini, saya beneran mengalami. Pas melahirkan anak ke dua, merasa lebih pede karena sudah pernah mengalami sebelumnya, saya pulang dari rumah sakit pakai bra yang berkawat dan dikaitkan dengan kencang. Saya kira akan baik-baik aja, toh selama ini begitu. Pas di perjalanan pulang ke rumah (padahal hanya sekitar 30 menit), payudara terasa kencang banget sampai sakit, saya deg-degan banget, takutnya bengkak atau sejenisnya. Langsung deh, sampai di rumah buru-buru lepas bra, rebahan sambil menyusui, sempat ngerasa agak meriang dan butuh waktu untuk payudara melunak lagi.

Sejak itu, saya nggak pakai bra yang berkawat dulu, kalau tidak salah ingat sampai 3 bulan kemudian baru saya pakai yang berkawat lagi, terutama kalau pergi dan beraktivitas di luar rumah. Kalau di rumah dan terutama malam pas tidur, saya pakai bra super longgar dan nggak berkawat tentunya.

Nah, dalam rangka pengen beli bra menyusui baru untuk menggantikan yang sudah mbladus tadi, saya jalan-jalan keliling survei bra menyusui. Ternyata sekarang semakin variatif dan cakep-cakep banget. Oiya, lupa cerita, pas kelahiran anak kedua, saya cuma beli bra menyusui tambahan aja, sekitar 4 buah (berkawat), jadi total saya punya 12, karena sebelumnya sudah punya 8 yang tidak berkawat. Dan yang 8 itu super awet banget, padahal jarak anak pertama ke yang kedua adalah 4,5 tahun.

Iklan Script

Hasil survei, ternyata banyak banget pilihannya:

  1. Berkawat atau tidak berkawat.
  2. Ada busanya, biasanya busa tipis aja di cup-nya atau tidak ada busa sama sekali.
  3. Bukaan atas, klip di deket talinya atau bukaan depan, kancingnya di antara 2 cup.
  4. Extra extension atau tanpa extra extension di bagian pengait belakang.
  5. Bermotif atau polos. Yang bermotif ada yang motif gambar atau semacam dari brokat. Yang polos ada yang dengan renda atau tanpa renda.
  6. Bahan spandex atau katun (seperti bahan kaos).
  7. Warna: krem, pink muda, broken white, hitam, putih, abu-abu.

Pilih yang mana yaaa?

Saya suka semua. Hahaha, galau. Saat ini saya menyusui anak ke dua yang usianya sudah 2 tahun 2 bulan, jadi lebih fleksibel karena payudara sudah nggak sekencang pas masih sering banget menyusui. Jadi, saya suka yang berkawat dengan busa buat hari-hari beraktivitas kerja di kantor, supaya lebih rapi aja, sih. Kawat yang nggak berbusa untuk pergi-pergi akhir pekan, karena terasa lebih ‘longgar’ tapi nggak kegeser-geser kalau banyak gerak, terutama kalau gendong-gendong anak. Dan yang tanpa kawat buat tidur malam atau beraktivitas di rumah. Oiya, saya suka yang polos untuk yang berkawat dan yang bermotif untuk yang nggak berkawat. Kenapa gitu? Nggak tau, selera aja. :))

Kalau dari segi merk, banyak banget pilihan dan harganya juga variatif. Bisa disesuaikan dengan budget dan selera. Berikut ini daftar merk, harga, dan variasinya per 15 Januari 2015, di Sogo Pondok Indah Mall 2 dan sekitar Pondok Indah Mall, tapi beberapa brand rata-rata bisa didapatkan juga di Department Store lainnya.

Marks & Spencer

Rata-rata isinya 2 pack, nggak ada yang satuan, setidaknya itu yang tersedia waktu saya ke sana. Keterangannya: maternity nursing bra, non wired, organic cotton linen cup. Warna yang tersedia: hitam, putih, abu-abu, dan pink muda. Bukaannya di atas pakai klip yang dekat tali. Harga untuk 1 pack isi 2 bra: Rp. 599.000 – Rp. 649.000

Sorella

Tersedia satuan, tanpa kawat, tanpa busa, bahan katun, ada warna: hitam, cokelat dan pink muda, harganya Rp.130.000. Ada juga yang pakai kawat, ada busa tipis di cup-nya, warna hitam dan krem, bukaannya di atas pakai klip yang dekat tali, ada keterangan mudah kering kalau basah, harganya Rp. 170.000. Pas lagi ada diskon 20%.

Felancy

Tersedia yang pakai kawat, dapat bonus extension di pengaitnya (kelonggaran/kekencangannya lebih banyak pilihan), bukaan klipnya di atas dekat tali atau di depan di antara 2 cup, ada warna pink, krem dan kuning muda, harganya Rp. 90.000. Ada juga yang tanpa kawat, semua bukaannya kancing depan, warnanya pink dan cokelat, harganya Rp. 95.000.

Cynthia

Tersedia yang nggak pakai kawat, ada busa tipis, warna abu-abu, hitam dan cokelat, harga Rp. 99.000. Yang nggak pakai kawat, nggak pakai busa ada warna cokelat muda, abu-abu, hitam, putih, harganya Rp. 119.000. Ada juga yang pakai kawat, warna cokelat dan hitam, harga Rp. 129.000.

Wacoal

Tersedia yang nggak pakai kawat, cup dengan ada busa tipis, klip bukaan di atas, warnanya biru muda, pink muda, krem. Harganya, Rp. 200.000. Ada juga yang nggak pakai kawat dan nggak pakai busa di cup-nya, dengan warna: krem dan broken white, harganya Rp. 160.000. Jenis lain yaitu pakai kawat tanpa busa di cup dan ada sedikit renda, warnanya: broken white dan cokelat, harganya Rp. 220.000.

Venicy

Tersedia yang pakai kawat, cup dengan busa tipis dan motif polkadot dan brokat, harganya Rp. 169.000 – Rp. 189.000. Ada juga yang tanpa kawat, dengan busa di cup dan bukaan kancing depan, harganya Rp. 189.000. Ada juga yang tanpa kawat, tanpa busa di cup, bermotif maupun polos dan bukaan di kancing depan, harganya Rp. 169.000-Rp.189.000.

Mothercare

Semua bra menyusui dari Mothercare tanpa kawat. Ada yang polos dan berbusa tipis di cup-nya dengan harga Rp. 409.000. Ada juga yang bermotif seharga Rp. 469.000-Rp. 489.000. Ada juga yang 1 pack isi 2, bermotif maupun polos dengan harga Rp. 579.000. Bukaan rata-rata di atas dan ada extra hook (pengait).

Mari dipilih yang sesuai selera dan budget, dan yang terpenting yang paling sehat dan tidak menekan payudara, supaya menyusui tetap lancar. Selamat menyusui dengan hati senang (dan bra cantik) 🙂 — @yuliaindriati

Leave a Reply