MENGERJAKAN QUIZ YUK...

Print Design

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet

Web Design

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet

Marketing

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet

image

Teras Sebelas

Jl. Jeruk Purut No. 11 Cilandak Timur Jakarta Selatan

Email: halo@keluargakita.com

Keluarga Kita

Riza khawatir banget anak jadi manja dan lembek. Dia pengen anaknya tumbuh jadi tangguh. Walau begitu Riza nggak setujudengan bentuk hukuman seperti bentakan, cubitan, dan ancaman. Riza juga selalu kasih kesempatan anak untuk berpendapat. Nah tapi, Riza masih sering pakai sogokan atau reward untuk bikin anaknya jadi nurut. Cara instan seperti ini dipakai Riza karena masih susah cari cara lain, Riza sadar kok akan hal ini. Walau bingung, tapi Riza ngerasa belum perlu belajar parenting dengan cara ikutan kelas-kelas parenting, Riza lebih suka belajar sendiri, baca-baca atau diskusi sama istri.

Jadi orangtua itu nggak gampang! Anya memang realistis dan nggak denial soal ini. Walau semua orang bilang Anya selalu zen, tapi bukan berarti emosinya nggak pernah bergejolak. Anya memang bukan tipe yang marah-marah, dia lebih sering “nggak enakan” jadi sering mendam perasaan. Bagusnya Anya, pas ada masalah, dia berusaha nggak drama dan cari cara, solutiflah kayak Bu Tejo di film Tilik. Karena yakin nggak ada orangtua yang sempurna, Anya rutin hadir ke sesi-sesi parenting. Anya ngeliat belajar parenting adalah kebutuhan.

Jadi orangtua itu nggak gampang! Anya memang realistis dan nggak denial soal ini. Walau semua orang bilang Anya selalu zen, tapi bukan berarti emosinya nggak pernah bergejolak. Anya memang bukan tipe yang marah-marah, dia lebih sering “nggak enakan” jadi sering mendam perasaan. Bagusnya Anya, pas ada masalah, dia berusaha nggak drama dan cari cara, solutiflah kayak Bu Tejo di film Tilik. Karena yakin nggak ada orangtua yang sempurna, Anya rutin hadir ke sesi-sesi parenting. Anya ngeliat belajar parenting adalah kebutuhan.

Tita menyadari dirinya belum siap jadi orangtua, saat anak pertamanya lahir. Tita si perfeksionis merasa hari-hari menjadi orangtua penuh dengan kejutan yang tidak bisa dia prediksi. Saat semua sesuai rencana, Tita lega banget, tapi saat kacau balau, Tita bisa runsing seharian. Tita punya ekspektasi yang tinggi pada anak dan pasangannya. Ini yang membuat Tita sulit berdamai dengan drama-drama harian yang tidak mungkin dihindari. Tita belum tergerak untuk belajar parenting, karena menurutnya lebih banyak teori dan sulit diterapkan.