Puan: “Oh gini ya jadi orangtua ….”

Haloooo!

Karena ini #Family24Q perdana, jadi sepatah dua patah kata dulu ya ^^

Jadi, selain seperti biasanya yaitu menghadirkan berbagai topik parenting dalam slide yang kami harapkan bisa membantu hari-hari para ortu, kami juga ingin menghadirkan semacam “behind the scene” suatu keluarga.

Setelah mendiskusikan ini dalam berpuluh-puluh email (lebay :p), jadilah kami lempar 24 pertanyaan ini dengan harapan bisa bertukar pengalaman, juga yang terpenting adalah untuk merayakan bahwa at the end of the day, bukan menjadi ortu sempurna yang dikejar, tapi untuk mencoba lebih baik setiap hari, beserta ups and downs-nya, happy-sad, lengkap dengan tarakdungcesnya :))

Hope you enjoy reading this as much as we do. Happy reading #Family24Q (siapin cemilan!) 😀

Di #Family24Q perdana ini kami menghadirkan Puan, sebagai penjawab pertanyaan, ibu-ibu asik yang hobinya baca, craft dan menulis. Ia bercerita tentang dirinya sebagai Puan, istrinya Teddy, dan ibunya Aira-Aidan dan anak perempuan dari ortunya. Komplit. Check this out!

Apa cita-cita waktu kecil? Sekarang terwujud enggak?

Seniman. Enggak lah, apa itu cita-cita kok seniman. Waktu kecil saya gak pernah bercita-cita seperti anak lain pada umumnya (dokter, arsitek, dsb). Cita-cita saya jadi seniman, biar kuliah di ITB. Ada dua kemungkinan yang mendasari cita-cita saya ini: satu, darah seni yang emang kuat dari keluarga bapak saya, atau dua, kepingin tiap hari naik kuda di ITB, karena dulu tiap ke Bandung pasti minta diajak naik kuda di ITB. Pada akhirnya, sepertinya, kemungkinan kedua yang terbukti lebih dominan, karena seiring membesarnya tubuh saya yang mengakibatkan kegiatan naik kuda menjadi semakin tidak pantat-friendly, keinginan kuliah di ITB pun ikut memudar.

Kalau cuma ada 2 kegiatan di dunia ini, masak dan bersih-bersih, bakal pilih yang mana?

Masak. Masak lebih seru, bisa berasa ala Jamie Oliver, lalu hasilnya difoto biar kece. Biar pun gak jago, tapi seneng coba-cobanya. Lagipula, setelah masak biar capek, hasilnya bisa dinikmati. Kalau bersih-bersih, udah riweuh, gak tau mulai dari mana. Pas selesai, paling sehari aja rapihnya. Kemudian, tinggal pasrah sama kebaikan hati anak-anak mau diberantakin lagi apa enggak. Le Sigh.

Gimana dulu ketemunya sama pasangan? Siapa naksir duluan?

Chat room Prambors. Ketahuanlah sudah jaman mudanya tahun berapa. Waktu itu pas release  film You’ve Got Mail, jadi rasanya romantis-romantis gimanaa gitu. Kalo sekarang ditanya, jawabnya suka tengsin. Haha..

Teddy beruntung pertama kenalan dalam bentuk tulisan, di mana saya bisa lebih jadi saya, ketimbang kalau ketemu langsung. I’m an awkward person, but not in writing. Gak tau juga yang naksir duluan siapa. Kalau mau ge-er sih pasti bilang dia. Walaupun kemudian saya tau bahwa buat Teddy faktor lokasi rumah ikut menentukan. Begitu denger rumah sama-sama di Jak-Sel, nah itu trigger-nya dia buat beneran make a move. Katanya gak mau cintaku berat di bensin. x)

Kapan & gimana memutuskan ‘this is the one” dan kemudian menikah?

Ketika saya sadar kalau saya yang awkward dan mega kaku kalau berhadapan sama orang bisa ngomong dan bersikap apa adanya kalau saya sama Teddy. Ketika saya bisa overlook semua perbedaan-perbedaan kecil diantara kita, karena prinsip kita tentang keluarga sama. Maksudnya, jaman SMA kan biasanya cari pacar yang hobinya sama, kesukaannya sama, yang ideal menurut ukuran itu lah. Teddy suka banget olahraga, saya gak suka keringetan, selera musik kita beda banget, titik temunya di Maroon 5, he’s loud dan super pede, saya gak bunyi dan awkward. Nah, ini beda banget tapi saya ngerasa gak papa, karena begitu bicara masa depan, kita bicara dengan bahasa yang sama.

Setelah nikah, langsung pengen punya anak atau menunda dulu? Kompak nggak?

Pengen langsung. Dan kompak. Karena yang alasan yang diatas tadi, berkeluarga dan punya anak dalam usia muda gak kedengeran horor bagi saya. 

Ada nggak alasan manjur yang rajin dipake saat hamil atau ngidam?

Gak perlu alasan sepertinya. Hamil saja udah jadi alasan yang cukup kuat untuk minta sesuatu dan diturutin. x)

Ada persiapan khusus buat menyambut bayi? Ikutan kelas atau just go with it?

Baca buku banyaaaaak banget, sisanya just go with it. Karena setelah melewati masa si kakak, saya merasa gimana pun rasanya kita udah mencoba mempersiapkan diri untuk jadi Ibu, ketika saatnya dateng kagetnya tetep kayak dilempar granat. Tapi saya tetep gak mau unprepared, karena itu saya pilih baca buku. Kemudian baru tanya, tapi lebih pilih tanya ke dokter. Masukan dari orang lain hanya sekedar bahan pertimbangan saja.

puan 4

 Apa yang paling diinget pas melahirkan?

Saya sudah 2 kali melahirkan normal. Saya melahirkan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, selama kontraksi dan waktu proses melahirkan. Alasan yang sejujur-jujurnya gak seheroik yang dibayangkan orang. Saya malu sama suster dan dokter. Saya gak mau menjerit-jerit dahulu bertengsin-tengsin kemudian. Saya menolak mengeluarkan suara dan ucapan yang akan saya sesali kemudian.

Waktu melahirkan Aira, dan si bayi pertama diserahkan ke saya, saya inget banget sambil memandangi si bayi saya mempertanyakan pada diri sendiri apa saya harus nangis kayak di film-film, karena udah kedip-kedip tapi gak ada dorongan untuk nangis sama sekali. Amazed  iya, nangis enggak. Sementara si dokter terus humming lagu Maju Tak Gentar sambil meneruskan aktivitasnya.

Gimana kehebohan bulan-bulan awal punya bayi? Masih sempat mandi?

Waktu Aira sih heboh luar biasa. Mandi sih sempat, tapi dress code selalu daster. Seminggu awal si ramuan jamu apalah itu yang buat dioles di jidat, yang katanya buat ngurangin pusing, masih dipake terus. Seringnya, pas gantiin popok, ramuannya kemudian jatuh dari jidat dan nemplok di anaknya. Oh, well. Adegan tendang-tendang kaki Teddy ampir tiap malem. Sebelum tidur udah nyiapin setumpuk popok, setumpuk bedong, dan toiletteries, biar Teddy tinggal ambil-ambil,gak usah buka-buka laci. Plus waktu itu jamannya si bayi masih pake gurita. Untungnya Teddy bisa ‘megang’ bayi dan luwes. Jadi ngebantu banget.

Momen apa yang bikin ngerasa “Oh, gini ya jadi orangtua.”?

Momen seminggu pertama di rumah sama Aira, kurang tidur, bayi nangis, dan saya gak paham dia mau apa. Kan gak bisa bilang, “Mau apa sih, naaaaak? Bilang doooong..” Tapi pada satu titik, pas lagi gak ada orang tentunya, terucap juga sih kalimat tadi. Sambil mewek jelek.

Itu waktu bayi baru lahir. Tapi ternyata momen ‘Oh, gini ya jadi orangtua.” itu terulang terus di setiap fase perkembangan anak. Waktu Aira pertama kali ulangan, dan dia santai aja sementara saya senewen. Waktu cari sekolah untuk anak-anak, waktu anak-anak sakit, waktu diambekin dengan dia masuk kamar dan banting pintu, dan saya rasanya nyes banget. Mungkin yang terakhir waktu mulai deg-degan kalau si anak gadis ABG saya ini mulai sebut-sebut nama temannya yang laki-laki. Dan yakin banget ini belum berakhir.

Apa yang paling mengagetkan antara “ekspektasi” dengan “realita” saat punya bayi?

Ekspektasinya menyusui manis, duduk di kursi sambil ngobrol sama si bayi. Realitanya nyusuinnya pake daster kusut, si jamu tadi di jidat, sambil setengah mewek karena ngantuk. Tapi waktu Aidan, karena udah tau akan kayak gimana, jadi lebih santai. Dan ternyata anaknya juga lebih santai. Dia tukang molor, jadi saya bisa tidur nyenyak di malam hari.

Being a parent makes you a better person. Apa yang paling berubah dari diri sendiri setelah jadi orangtua?

Sedikiiiit lebih sabar, tapi jauuuuuh lebih cerewet. Ini bagus sih, karena saya yang biasanya gak berani bicara jadi lebih banyak bicara. Lebih menghargai Ibu saya, karena sekarang saya tau bagaimana rasanya jadi beliau. Bisa nyetir. Iya, ketrampilan yang satu ini gak akan saya kuasai kalau saya gak perlu mengantar anak-anak ke mana-mana dan angkutan umum semakin gak nyaman buat mereka. Saya memang sudah terbiasa banget ke mana-mana dengan angkutan umum, jadi selalu menunda bisa nyetir. Tapi sejak sudah punya anak dua, demi memenuhi kebutuhan mereka untuk beraktivitas, akhirnya saya memberanikan diri untuk setir mobil. Yay for me!

puan 3

Multitasking. Berapa banyak hal yang pernah dilakukan sekaligus di saat yang bersamaan dan apa aja?

Menyusui sambil ngetik tugas kuliah. Ini yang paling keinget. Setiap saya kuliah pasti kemudian saya hamil, jadi sering harus menyusui sambil mengerjakan tugas sekolah. 

What is your weirdest 24 hour as a parent?

Apa yah? Mungkin waktu harus ke kampus sama Aidan, naik metromini pas sampe Blok M dia tidur jadi harus diangkut, kemudian nunggu dosen yang juga Dekan untuk bimbingan skripsi sambil senewen karena bawa anak. Takut Pak Dekan keganggu, tapi ternyata Pak Dekan lebih lama ngabisin waktu untuk main sama Aidan daripada bimbingan dengan saya. Pas mau pulang, Aidan keukeuh gak mau lepas topeng dari kertas yang dibikinin Pak Dekan. Saya tawarin naik taksi, tapi Aidan mau naik Transjakarta jadi harus tempuh rute agak muter supaya bisa sampe di halte Ragunan. Sampai Ragunan Aidan lagi-lagi nolak naik taksi ke rumah, maunya naik angkot. Sampai dekat rumah dia minta naik becak. Jadi hari itu kami naik metromini, transjakarta, angkot, dan becak.

Kalau punya kantong Doraemon, bakal keluarin alat apa untuk mengatasi tantangan orangtua yang mana? 

Pintu kemana saja. Karena macet di Jakarta itu jadi kendala banget. Kendala milih sekolah cita-cita, kendala anak mau ikut les atau klub tertentu, kendala bagi waktu untuk antar jemput anak dan untuk diri sendiri. Selain itu untuk traveling tentunya. Cita-cita saya adalah ajak anak-anak traveling, lihat dunia sebanyak-banyaknya. Naaaah, berhubung tiket pesawat mahal banget, pintu kemana saja bisa jadi solusi kan? Ya, kan? Ya, kan?

Now you’re a parent, how do you see your parents? What’s the best and the worst of them?

Ibu saya ternyata lebih ‘kuat’ dari yang selama ini saya kira. Ibu saya yang selalu mendorong saya untuk terus sekolah, walau sudah berkeluarga. Ayah dan Ibu saya tidak pernah ‘berantem suami-istri’ di depan anak-anaknya.  Orangtua saya, bagaimana pun keadaan keuangan keluarga tidak pernah menyusahkan orang lain dan selalu berusaha keras memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dan yang paling berkesan, meski sederhana, orangtua saya selalu mengajak kami ke tempat-tempat seru dan berbudaya ke mana pun kami pergi. Sejak kecil saya sudah berkeliling berbagai museum dan tempat-tempat budaya, khususnya di Jakarta dan pulau Jawa-Bali. Ayah saya selalu berpesan ke mana pun kita pergi, make time to visit the art gallery and museum

Mungkin bukan the worst, tapi saya berharap waktu kecil saya lebih didorong untuk lebih berani mengungkapkan pendapat dan jadi lebih outspoken.

If your family is a rainbow, warna apa yang yang mewakili setiap anggota keluarga? Kenapa begitu?

Teddy would be red, karena dia bold, berani, ouspoken, temperamental, at the same time warm at heart, dan a die hard Liverpool FC fan. A red through and through.

Aira would be yellow. Cause she’s so bright, and pretty. Seriously, bukan hanya karena saya ibunya. Terkadang saya melihat dia dan amazed sendiri, karena sudah diberkahi anak pertama seperti dia. What kind of yellow? You need to guess every single time. Karena seperti saya, suasana hati Aira sulit ditebak dan dia tidak banyak membicarakannya.

Aidan would be a burst of all colors. Karena dia konyol, baik hati, outspoken, mudah tersentuh, ekspresif, di saat yang bersamaan. Bukan deretan warna yang berjajar, tetapi ledakan warna-wana sekaligus jadi satu. Dia sangat ekspresif ketika sedang senang, tetapi juga ekspresif saat tidak senang. You don’t need to guess thou, he’ll tell you.

I think I would be blue, or green. Gak yakin juga kenapa. Pastinya bukan warna yang gelap.  

Kebisaan atau kelebihan apa yang dipunyai pasangan yang sangat dikagumi?

Teddy orang yang mandiri, rapih dan organized. Kecuali mandiri, hal-hal ini tidak saya miliki. Dan dia cukup berbesar hati dan sabar menghadapi saya yang berantakan. Yang lainnya tentu kemampuan dia untuk beradaptasi dan bicara dengan siapapun di mana ia berada.

How do you deal with each other? Siapa yang nyamperin duluan kalo lagi marahan?

Kami sama-sama anak tertua, kelebihannya adalah kami berdua sama-sama mandiri dan bisa mengurus diri sendiri. Kekurangannya kami sama-sama keras kepala untuk apa yang menurut kami benar, merasa ‘aturan’ yang kami punya adalah yang paling benar. How we deal with each other? Sabaaaaaaar yang banyak banget, mungkin. Mengalah di saat-saat tertentu, ngotot di saat yang lainnya. Bahas sampai tuntas saat itu juga untuk satu hal, bahas setelah tenang untuk hal lainnya. Gak ada formula khusus, seperti hal lainnya dalam hidup, kan? Kalau soal siapa yang nyamperin duluan, ya siapa yang kebetulan lebih sabar aja pada waktu itu. x)

Kegiatan apa yang seneng dikerjain berdua bareng pasangan? 

Nonton film di bioskop dan makan enak. Oh, dan nonton serial tv tertentu sama-sama. Ada beberapa judul serial tv yang selalu kami tonton bersama. Seperti Dexter, Homeland, Sons of Anarchy, dan Vampire’s Diary. Iya, Vampire’s Diary.

Kami juga masih berusaha bikin jadwal jalan-jalan berdua. Gak setiap tahun sih, pas kebetulan ada waktunya saja. Biasanya hanya 2-3 malam, ke Bali misalnya. Jenis liburan yang malas-malasan dan makan enak, atau wandering tanpa tujuan pasti yang dikejar, seperti saat liburan keluarga.

puan 5

Apa resep favorit keluarga?

Pasta bikinan Bunda, Sarden bumbu tomat bikinan Ayah, dan Ultimate Nutella Sandwich bikinan Aira dan Aidan.

Kalau rumah banjir, benda apa yang bakal diselametin duluan?

iPhone dan charger. Jujur itu yang pertama kepikiran. Mudah-mudahan kalau sampai kejadian (knock on wood semoga sih enggak) inget untuk nyelametin dokumen berharga yang ada di rumah. Hati kecil pengen nyelametin buku-buku kami, tapi apa daya banyak banget jumlahnya. 

What is your happiest moment as a parent?

Ketika membaca tulisan si Kakak kalau menurut dia walaupun saya gak seperti ibu-ibu lainnya, tapi saya Ibu yang seru, karena tau apa yang ibu-ibu lain gak tau dan sering melakukan hal-hal yang ‘berbeda’ dengan ibu lainnya. Ini dia tulis setelah kami keliling Jakarta berdua saja naik transjakarta. 

Dan setiap kali Aidan peluk-peluk dan bilang sayang Bunda. 🙂

What is your ulimate wish as a parent?

Supaya mereka jadi manusia yang baik hati, sukses dalam sekolah dan pekerjaan, sesuai dengan apa yang mereka suka. Karena sudah pasti mereka harus bekerja, dan tidak ada yang lebih membahagiakan dari hal ini selain bisa bekerja melakukan apa yang mereka suka.

 

Leave a Reply