Adenita: “Nggak ada orangtua yang jelek …”

Adenita, ibu dari Oza, penulis buku Breastfriends dan juga pemilik usaha baju menyusui Emeno Nursing Wear, bercerita tentang ajaibnya rasa saat melahirkan, kekagumannya pada suaminya, Agung, dan sikap hidup yang diajarkan kedua ortunya yang sampai saat ini ia pegang teguh dan jalani.

Apa cita-cita waktu kecil? Sekarang terwujud enggak?

Cita-cita waktu kecil itu berubah-ubah: pramugari, presenter berita. Ternyata setelah besar ditelaah lagi, maknanya pengin jadi pramugari karena pengin jalan-jalan, presenter berita karena pegin banyak berbagi cerita. Pramugari jelas nggak terwujud, wong tinggi badannya dibawah rata-rata dan ternyata saya takut ketinggian haha.. Presenter berita hampir terwujud saat saya kerja sebagai reporter di sebuah stasiun tv swasta, kalau saja lebih sabar sedikit untuk mengikuti proses training, maka loncatannya adalah ke sana. Tapi ternyata di tengah perjalanan, saya menemukan passion saya sebagai orang yang kerjanya di belakang layar. Lebih nyaman dan lebih ekspresif. Jadi, malah bersyukur cita-cita dulu nggak tercapai, karena digantikan sama yang lebih membahagiakan dan mewakilinya tujuan keduanya. Hehehe

Jika cuma ada 2 kegiatan di dunia ini, masak dan bersih-bersih, bakal pilih yang mana? 

Masak dong! Bersih-bersih itu kesenangan sesaat karena habis itu berantakan lagi, sementara masak hasilnya nyata dan langsung terasa..haha.. *salam damai  buat yang suka bersih-bersih =D  Tapi  benar deh, masak itu mengajarkan saya untuk melawan rasa malas atas diri sendiri, bikin saya jadi berani nyoba dan berkreasi. Dari mulai baca resep, menyiapkan bahannya, cara mengolahnya, sampai cara menyajikan, itu adalah sebuah proses yang membahagiakan. Apalagi melihat reaksi orang yang makan nambah dan puas dengan apa yang saya masak, woaah.. bikin ketagihan buat masak lagi dan lagi .. =D Oh satu lagi, masak jadi lebih bersemangat setelah ada era food photography. Hidup masak! =))

Gimana dulu ketemunya sama pasangan? Siapa naksir duluan?

Selalu bikin senyum-senyum nih kalau ditanya soal ini. Soalnya saya dan suami (Agung) itu sebenarnya adalah produk perjodohan yang gagal, haha.. Dulu ada seorang sahabat kami yang selalu ingin mempertemukan kami berdua tapi nggak pernah ketemu jodoh. Saya nggak pernah tertarik juga pas dikasih lihat fotonya. Sampai akhirnya suatu hari saya jadi fasilitator pelatihan pengembangan diri yang diadakan kampus ITB. Kenalan sama satu peserta yang kelihatan charming dan dia ternyata masuk kelompok saya. Dari pertama kenalan koq ada yang “nyetrum” sampai ke hati ya. Kayak lagunya I Knew I Loved You Before I Met You haha .. Ternyata setelah pelatihan usai, masih lanjut berkontak dengan berbagai momen. Waktu saya cerita sama sahabat saya tentang orang ini, barulah terungkap bahwa orang yang dulu mau dikenalin tapi saya tolak-tolak. Haha *tutupmuka. Pada saat itu sudah sama-sama naksir kayanya, hehe.. Pesan moral, perjodohan akan gagal kalau yang dilihat cuma foto, karena nggak setiap orang fotogenik .. hahaha

 Kapan & gimana memutuskan ‘this is the one” dan kemudian menikah? 

Dari awal ketemu dan pacaran, dia memang serius bilang kalau dia nggak cari pacar, tapi cari calon istri. Padahal waktu itu dia masih kuliah tingkat akhir dan saya sudah lulus dan kerja. OIya, usia kami terpaut satu tahun, dia lebih muda. Tapi justru yang serius membahas masalah masa depan dan membahas pernikahan adalah dia. Sebenarnya, saat itu kriteria saya cari suami nggak muluk-muluk, cuma pengin calon suami saya punya pengetahuan agama yang lebih dari saya dan nyambung kalau diajak ngobrol. Ternyata saya dikasihnya lebih. Saat itu, ditunjukkan banyak momen yang membuat saya melihat bahwa orang ini apa adanya, selalu mau belajar hal baru dan punya jiwa leadership yang tinggi. Intinya, dia bisa melengkapi kekurangan dan apa yang saya nggak punya. Semua itu sudah cukup bagi saya untuk yakin, saya mau hidup dengan orang ini :’)

Setelah nikah, langsung pengen punya anak atau menunda dulu? Kompak nggak?

Tadinya saya sempat berpikir untuk menunda dulu tapi lalu sepakat bahwa pokoknya kalau dikasih kepercayaan ya akan kami terima. Sebulan kemudian saya dinyatakan hamil. Mengingat riwayat keluarga suami yang agak sulit untuk mendapatkan anak, bahkan kakak ipar saya untuk mendapatkan anak harus melewati program inseminasi dan bayi tabung, jadi rasanya saya harus banyak bersyukur dikasih kemudahan amanah ini.

Ada nggak alasan manjur yang rajin dipake saat hamil atau ngidam?

Nggak ada. Karena minta sesuatu kalau nggak hamil aja dituruti, Nah permintaan pas hamil kayanya jadi Sabda, dengan catatan permintaannya logis. Hehe …

Ada persiapan khusus buat menyambut bayi? Ikutan kelas atau just go with it?

Banyak baca buku yang berhubungan dengan bayi, lalu ikut senam hamil yang ternyata sangat membantu saya dalam proses persalinan. Oya, juga ikut kelas persiapan menyusui, bekal penting banget yang saya lakukan sebelum melahirkan. Kebayang repot dan paniknya kalau saya nggak membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan itu. Kalau soal parenting, waktu hamil itu saya masih siaran di sebuah radio dewasa muda, jadi banyak sekali ketemu ibu-ibu penuh inspirasi yang asyik diajak diskusi. Saya jadi banyak dengar dan suka dapat nasehat soal parenting langsung dari ibu Elly Risman dan mbak Shahnaz Haque. Modal berharga di kemudian hari ketika saya jadi ibu.

Apa yang paling diinget pas melahirkan?

Huah.. kalau ingat tentang melahirkan, cuma satu kata, ajaib! Momen ini sangat mendebarkan yang bikin kusyuk berdoa. Ternyata ruang persalinan nggak seseram yang saya bayangkan. Mungkin juga karena suami saya mengkondisikan sedemikian rupa supaya suasana ruang bersalin tetap kondusif. Jadi, selama menjelang persalinan, kami tetap boleh memutar musik instrumental yang saya dengar saat senam hamil. Musik yang diputar lembut bikin saya nggak terlalu tegang. Suasananya tenang dan kusyuk, karena memang sengaja nggak boleh banyak orang masuk. Suasana melahirkan persis seperti simulasi yang sering dilakukan ketika saya ikut senam hamil, bedanya ini pakai mules edisi induksi. Wow banget deh rasanya!=D Saya mengejan tanpa gaduh dan ketenangan pecah dengan suara tangis mahluk kecil yang ditaruh diatas dada saya. Wah, itu rasanya pertemuan pertama yang mengharukan. Wajah yang dinanti selama 9 bulan dan cuma bisa dilihat dari USG, sekarang nyata ada di depan mata. Ajaib!

Gimana kehebohan bulan-bulan awal punya bayi? Masih sempat mandi?

Heboh banget menyusuinya! Waktu itu masih tinggal di rumah mertua, jadi saya bersyukur sekali banyak sekali bala bantuan yang membuat saya tetap bisa menjalankan rutinitas yang agak ‘normal’. Masih sempat mandi, meski agak terburu-buru. Nggak ada lagi deh tuh mandi sambil nyanyi-nyanyi indah.. haha

Kehebohan awal-awal punya bayi karena waktu itu bayi saya (Oza) kesulitan menyusui. Tangisannya seringkali membuat seisi rumah heboh. Sementara saya hebohnya bukan sama bayi, tapi melihat reaksi orang rumah. Mereka mengira asi saya kurang, dan akhirnya bikin geng eyang-eyang datang memberikan aneka saran untuk meningkatkan asi, daun katuk sampai pepaya muda rebus juga disajikan, haha..

Hebohnya adalah kalau malam tiba, saat orang sudah tinggal tidur, saya masih harus melek dan menyusui. Saya ingat sekali, saking lamanya waktu menyusui di siang dan malam hari, buku Ainun-Habibie selesai saya baca dalam 4 malam =D.  Tapi sekali lagi, untung saya ikut kelas persiapan menyusui, sehingga waktu mengalami kesulitan, saya langsung datang ke konselor menyusui dan langsung diketahui penyebabnya. Ternyata Oza itu tongue tie atau tali lidah pendek yang membuat mulutnya susah melekat dengan benar pada payudara. Setelah mendapat solusi dari pediatrik yang juga konselor menyusui, semuanya menjadi lebih mudah. Kehebohan sisanya lebih pada pergeseran aktivitas aja. Culture shock? Pasti! Tapi lama-lama mulai beradaptasi.

adenita3

Momen apa yang bikin ngerasa “Oh, gini ya jadi orangtua?”

Waktu anak sakit, ternyata nggak bisa dipungkiri pusat perhatian kita tercurah semua untuk anak. Kerja nggak tenang, hati rasanya sedih, dan dengan berat hati melepas banyak janji dan rencana yang sudah disusun lama demi menemani anak sakit. Intinya, mau sebagus apapun rencana kerja atau liburan, tapi kalau anak sakit, maka semua berubah total. Kerelaan hati untuk meninggalkan yang lain itu awalnya berat loh dijalani, tapi lama-lama justru malah membuat saya terlatih untuk berbesar hati. Saat sadar, “oh begini ya ibu sama bapak dulu kalau saya sakit”. Dan saat itu saya sadar, bahwa hidup saya bukan untuk mengurus diri sendiri lagi, tapi saya dibutuhkan anak saya..

Apa yang paling mengagetkan antara “ekspektasi” dengan “realita” saat punya bayi?

Apa ya?kalau saya sih bagian yang sulit menyusui itu. Saya pikir dengan ikut kelas edukasi menyusui, akan membuat semuanya mudah. Kenyataannya, dengan ilmu dasar menyusui untuk bayi yang saya dapatkan ternyata nggak cukup, karena permasalahan yang saya hadapi di luar itu. Andai saja saya tidak ikut kelas edukasi itu, mungkin saya sudah menyerah dengan ‘realita heboh’ saat menyusui di 4 bulan pertama.

Sisanya, ternyata punya bayi nggak seribet yang saya bayangkan. Mungkin karena semula saya membayangkan semua akan diurus sendiri. Ya maklum, di benak saya masih terbayang ‘ajaran lama’ istri mengurus anak, suami mencari nafkah, hehe.. Tapi saya salah! Di luar dugaan, ternyata suami saya sangat koperatif sekali untuk berbagi peran mengurus dan mengasuh bayi. Kolaborasi pengasuhan bikin saya menambah percaya diri waktu punya bayi. Ih, terharu deh :’)

Being a parent makes you a better person. Apa yang paling berubah dari diri sendiri setelah jadi orangtua?

Benar banget! Jadi orangtua itu seperti proses metamorfosis jadi orang yang lebih baik. Kalau buat saya, yang paling berubah itu sumbu kesabarannya jadi lebih panjang, haha.. Menenangkan anak saat menangis, menghadapi kalau lagi rewel, menemani anak belajar jalan, dan banyak hal lainnya yang jadi latihan bagus banget untuk jadi orang yang sabar. Maklum, sebagai anak bungsu, saya terbiasa ‘dibimbing’ orang lain dan bukan membimbing. Jadi, buat saya stretching banget deh menghadapi semua itu hehe..

Jadi orang tua juga membuat saya jadi orang yang berpikir cepat tapi dengan penuh pertimbangan dan memaksa saya untuk bisa membuat manajemen waktu yang baik. Karena 24 jam itu sudah bukan lagi milik saya sendiri, tapi harus berbagi perhatian pada suami, anak, belum lagi menjalin komunikasi dengan eyang-eyang dan segambreng keluarga besar dan tetangga, dan memenuhi keinginan sendiri untuk berkarya. Bukan hal yang mudah bagi saya melawati ini semua. Jadi orangtua mengubah hidup saya jadi orang lebih baik lagi memanfaatkan waktu dan memaksa saya untuk bisa melakukan hal yang sebelumnya saya pikir nggak bisa saya lakukan.

Satu hal yang berubah lagi adalah soal tidur. Dulu kalau tidur bisa bablas aja nggak dengar apa-apa, semenjak punya anak ternyata kuping saya lebih sensitif dengar suara-suara dan sering terbangun di waktu-waktu yang anak butuhkan. Keajaiban yang mengubah segalanya! Haha..

Multitasking. Berapa banyak hal yang pernah dilakukan sekaligus di saat yang bersamaan dan apa aja?

Sambil nidurin bayi di pangkuan, ngetik draft buku, balas email, browsing untuk riset, sesekali belanja online haha..=D

What is your weirdest 24 hour as a parent?

Saat anak dan suami sakit bersamaan.. *senyum manis sama suster jaga!=D Aduh, itu rasanya nggak karuan. Anak sakit nggak mau lepas dari ibunya, sementara suami juga butuh pertolongan. Malam hari tidurnya terbangun terus dan menyaksikan perpindahan jarum jam secara runut. Nggak ngantuk, tapi juga nggak bisa mengerjakan sesuatu dengan konsen.

Kalau punya kantong Doraemon, bakal keluarin alat apa untuk mengatasi tantangan orangtua yang mana?

Pintu ajaib! *dengan suara berat Doraemon =D . Ada kalanya pekerjaan saya mengharuskan saya pergi meninggalkan anak. Dengan pintu ajaib, di manapun saya berada, saya bisa langsung buka pintu dan ada di rumah untuk menemani Oza main, lalu kembali lagi ke tempat pekerjaan. Buat saya menemani anak bermain itu penting sekali, karena itu adalah sarana untuk mengajarkan banyak hal, termasuk menanamkan nilai kebaikan, mengasah kreativitas berpikir, bikin anak bahagia dan percaya diri. Masalahnya, sebagai orangtua yang juga punya kesibukan dan tanggung jawab lain, tantangan sekali untuk membelah diri di kedua tempat ini. Si pintu ajaib ini asyik banget ya kalau dikasih  sama Doraemon haha.. *ngayal bebas

Now you’re a parent, how do you see your parents? What’s the best and the worst of them?

Setelah jadi orangtua, langsung tersadar bahwa nggak ada orangtua yang jelek. Mereka cuma nggak tahu bagaimana caranya memperlakukan anak karena nggak dibekali pendidikan khusus jadi orangtua. Apa yang mereka dapatkan saat merawat dan mendidik anaknya adalah hasil turunan dari orangtuanya dulu. Kalau ada yang salah, itu karena perbedaan pandangan yang terjadi antara orang yang tahu dan tidak tahu. Orangtua saya tidak  banyak mengajarkan saya filosofi hidup, tapi mereka dengan kesederhanaannya memberi contoh langsung untuk berbagi dan peduli pada orang lain. Sampai sekarang saya selalu ingat, betapa ibu dan bapak saya selalu menyegerakan menjenguk tetangga yang sedang sakit. Dan saya jadi ikut terbiasa meneruskan kebiasaan baik itu sampai saya besar dan berumah tangga. Langsung ingat sebuah quotes, every mother should remember that one day her daughter will follow her example instead of her advice .. dan itu benar banget

If your family is a rainbow, warna apa yang yang mewakili setiap anggota keluarga? Kenapa begitu?

Suami saya kuning, karena dia itu seperti matahari yang selalu  kami butuhkan kehadirannya. Warna Kuning itu katanya warna yang bisa meningkatkan konsentrasi dan fokus. Nah, cocok banget deh tuh karakter suami saya =D

Merah itu warnanya Oza. Karena dia adalah sumber energi dan pusat perhatian kami di rumah. Kalau saya karena suka banget sama alam dan suka berkreasi di rumah, kayanya hijau deh.. warna hijau katanya identik kreativitas, kesejukan dan ketenangan.. *uhuk! *meski sebenarnya aslinya  jauh dari tenang, haha =D 

Kebisaan atau kelebihan apa yang dipunyai pasangan yang sangat dikagumi?

Saya kagum sekali dengan pasangan saya karena terbiasa dengan segala sesuatu yang terencana. Saya adalah orang yang nggak terlalu suka hal yang detil, sementara dia itu sangat detil sekali dalam mengerjakan sesuatu. Dia mampu melihat apa yang saya nggak bisa lihat dan pikirkan. Kelebihan lainnya yang sampai sekarang suka bikin saya bengong, dia itu disiplin banget olahraga, baik di luar maupun di rumah. Pulang kerja kalau nggak basket atau sepedahan, pasti suka stretching-streching sendiri dan itu rutin. Karena buat dia, olahraga bukan sekedar hobi, tapi kebutuhan.

Oya, satu hal lagi yang saya sangat kagumi sekaligus suka bikin bengong adalah tentang motto safety first dalam hidupnya. Mungkin sebagai seorang Geophysicist, safety adalah standar dalam pekerjaan yang sudah jadi gaya hidup. Jadi, hal ini juga selalu ia terapkan dalam keluarga. Kalau sudah menyangkut soal ini dia akan cerewet sekali. Contoh kecil, seat belt harus tetap dipakai walau duduk di kursi belakang, atau kalau kami pergi menginap di sebuah tempat, dia akan tanya di mana letak pintu emergency dan titik evakuasi, haha.. bikin orang yang dengar ngangkat sebelah alis nggak sih? Tapi lama-lama ngerti, semua itu buat kebaikan kami juga.

Yang pasti, dia itu family man idola saya! Tanpa banyak kata, dia sangat menunjukkan bahwa keluarga, anak dan istrinya adalah prioritas utama. Selalu kroscek anak dan istrinya di sela kesibukannya. Dan dengan caranya sendiri selalu bikin kami bahagia dan bikin kami merasa ada yang kurang kalau nggak ada dia.. :’)

How do you deal with each other? Siapa yang nyamperin duluan kalo lagi marahan?

Siapapun yang merasa salah, biasanya akan nyamperin duluan =D. Tapi biasanya saya kalau marah, males ngomong dan ngomongnya singkat-singkat. Hebatnya, suami saya walau lagi marahan, dia akan tetap profesional menjelaskan semua dengan detil apa yang saya tanya haha..

Kegiatan apa yang seneng dikerjain berdua bareng pasangan? eg. Naik sepeda, main online game.

Olahraga bareng, lari, yoga atau traveling. Apa aja kalau berdua pokoknya bikin senang.. hehe. Meski sudah punya anak, buat saya couple time itu penting banget. Kadang saya suka mampir kantor suami buat makan siang bareng, terus pulang lagi. Sesederhana itu aja. Soalnya saya percaya, couple time, selain meningkatkan kualitas hubungan dengan pasangan, juga bikin suasana rumah menyenangkan. If mama ain’t happy, ain’t no body happy 😉

Apa resep favorit keluarga?

Ifu mie! Kalau saya masak ifu mie, semua bisa nambah berkali-kali dan duduk di meja makan lebih lama.. senang deh!

Kalau rumah banjir, benda apa yang bakal diselametin duluan?

Gendong anak. Lalu menjinjing laptop, masukin handphone ke saku dan masukin semua surat-surat dalam satu tas! Anak nggak usah ditanya lah ya.. Surat dan dokumen kalau hilang urusannya panjang, laptop untuk menyelamatkan pekerjaan dan handphone untuk menghubungi bala bantuan!=D

adenita2

What is your happiest moment as a parent?

Wah, banyak. Saat melihat anak tidur dalam gendongan ayahnya. Saat sudah bisa bilang “tolong” kalau butuh bantuan dan bilang “terima kasih” kalau dibantu atau dikasih sesuatu. Tapi yang paling meleleh, saat anak bilang “aku sayang Bundaku” sambil cium-cum pipi. Waaah itu surga dunia!

What is your ulimate wish as a parent?

Misykat, nama tengahnya Oza itu artinya tempat cahaya Allah . Itu kayanya mewakili harapan kami, supaya kelak anak kami jadi orang yang bisa membawa cahaya kebaikan di manapun ia berada =) . Semoga kami bisa jadi orangtua sekaligus sahabat yang bisa memberikan teladan yang baik dan bisa membesarkan anak dengan penuh cinta. Supaya di benak anak tertanam, bahwa orang terdekat yang selalu jadi teman dalam susah dan dukanya yang bisa dipercaya adalah ayah dan bundanya. =)

 

Leave a Reply