Si Cengeng, Si Lamban, Si Gendut, Apa Efek dari Label?

1

Label atau menjuluki/ngatain anak seringkali kita berikan pada anak atau orang lain untuk mengatasi konflik emosi yang kita rasakan sendiri.Orangtua yang sedang marah besar lebih mudah menyatakan bahwa anaknya nakal.

2

Semakin sering anak mendengar label, ia akan mempercayai label tersebut, mempersepsi dirinya sesuai dengan label, dan pada akhirnya berperilaku sejalan dengan label yang diberikan.

3

Semakin sering label dinyatakan, orangtua, juga lingkungan, akan makin mempercayainya pula dan secara otomatis menyesuaikan ekspektasi pada anak.

4

Misalnya, anak yang dilabel malas membaca akan semakin ragu-ragu memilih buku karena takut orangtua akan marah apabila ia tidak menamatkannya. Pada akhirnya, perjalanan bersama ke toko buku menjadi tidak menyenangkan, tawaran orangtua untuk membeli buku menjadi jarang, kesempatan anak membaca semakin berkurang, dst.

5

Dalam interaksi yang baik, sangat penting untuk membedakan perilaku yang bersifat sesaat dengan kepribadian dan identitas anak yang menetap.

6

Misalnya, jika anak berbohong tentang PR matematika kemarin malam, bukan berarti anak memiliki kepribadian pembohong dan melakukannya dalam setiap kesempatan.

7

Komunikasi antara orangtua dengan anak, baik pujian ataupun kritik, harus spesifik dan berfokus pada perilaku yang diharapkan di masa mendatang.

8

Pernyataan “Kamu tidak bisa karena kamu malas” melabel anak. Sementara pernyataan “Lain kali, latihannya harus dimulai satu minggu lebih awal” akan mendorong perbaikan.

9

Untuk anak dan orangtua, label seolah-olah melepaskan “tanggung jawab” belajar. Kalau sudah “dari sononya” begitu, tidak ada yang bisa dilakukan.

10

Anak yang dilabel “cengeng” dianggap akan selalu menangis tanpa alasan, jadi orangtua tidak bertanggungjawab mencontohkan pengendalian emosi dan anak tidak perlu berlatih menenangkan diri.

11

Anak yang dilabel akan merasa mendapat “serangan” dan otomatis melindungi dirinya. Ada yang menjadi sangat tertutup dari lingkungan, ada yang menampilkan kemarahan dan membully. Ini muncul karena kepercayaan dirinya memburuk.

12

Orangtua perlu terus menerus menyatakan kepercayaan dan cintanya kepada anak dalam berbagai situasi. Mengulang dengan konsisten pesan positif, saat anak berhasil dan terutama saat anak gagal, akan memperkuat identitas positif anak.

13

Biasakan memandang perilaku anak sebagai kekuatan dan potensi  positif. Keras kepala bisa dilihat sebagai sifat pantang menyerah, sering takut menunjukkan kemampuan memprediksi resiko.

14

Untuk anak yang sudah sering dilabel, situasinya akan lebih sulit. Namun pengulangan pesan-pesan positif dari orangtua ke anak dengan konsisten akan sangat membantu.

15

Anak juga harus sering mendapat pengalaman sukses menghadapi situasi menantang. Keberhasilan memberi anak afirmasi positif dari lingkungan/orang lain yang bertentangan dengan labelnya.

16

Anak yang dilabel pemalu, apabila sering  diberikan tantangan kecil bertemu orang baru atau mengundang 1-2 teman ke rumah, dengan didampingi orangtua di awal, akan mendapatkan pengalaman menyenangkan dan perlahan menyadari bahwa ia tidak sepemalu label yang disandangnya.

17

Saat orangtua lelah, dalam tekanan atau  situasi yang tidak biasa, kadang label dimunculkan tanpa disadari. Nyatakan maaf dan bahas kesalahan ini dengan anak.

 

Leave a Reply