Apa yang dimaksud dengan belajar?

 

1. Belajar bukan menghafal

Belajar terjadi bukan ketika anak memasukkan pengetahuan dalam pemikirannya, tapi justru ketika anak bisa menyampaikan pemikirannya ke luar, ke orang lain. Contoh sederhana, belajar memasak bukan ketika seseorang bisa menghafal 1000 resep masakan, tapi ketika orang tersebut bisa memberi penilaian terhadap suatu masakan atau bahkan bisa memasak.

2. Belajar bukan selalu berarti duduk manisĀ 

Ada banyak cara belajar. Sebagian anak belajar dengan duduk manis, sebagian lagi belajar dengan bergerak, sebagian lagi belajar dengan menggambar dan banyak cara lainnya. Pada awalnya, anak lebih nyaman dengan cara belajar alaminya, tapi kemudian perlu belajar cara belajar yang lain.

3. Belajar bukan berarti latihan soal

Latihan soal bukanlah belajar, tapi upaya meningkatkan kemampuan untuk mendapatkan nilai ujian yang tinggi (studying, not learning). Latihan soal tidak meninggalkan kesan kecuali kesan belajar itu membosankan. Latihan soal seringkali hanya berdampak jangka pendek, hanya sampai anak mengikuti suatu ujian.

4. Belajar tidak pernah membosankan

Belajar pada dasarnya menyenangkan bagi anak. Setiap anak lahir sebagai pembelajar, pribadi yang penuh rasa ingin tahu dan keinginan mencoba berbagai macam hal. Tapi seringkali anak dipaksa belajar dengan pola yang keliru sehingga anak pun merasa merasa tidan tertarik atau tidak tertantang. Anak pun merasa bosan belajar. Oleh karena itu, bila anak belajar merasa bosan berarti ada yang keliru dengan pola belajarnya.

5. Belajar tidak selalu membaca buku pelajaran

Belajar pada dasarnya proses membaca, menyerap dan mengolah suatu informasi dari berbagai sumber. Membaca buku pelajaran penting, sepenting membaca buku sastra atau buku cerita. Karya sastra memperkaya kosa kata anak, memfasilitasi anak belajar beragam pola penyelesaian masalah, dan mengembangkan empati anak.

6. Belajar tidak butuh kehadiran seorang guru

Pada dasarnya setiap anak belajar dengan atau tanpa guru, selama anak menyadari pentingnya belajar. Kehadiran guru bukan membuat terjadinya proses belajar, tapi lebih pada mengoptimalkan proses belajar. Peran guru dalam mengoptimalkan proses belajar dapat juga diperankan oleh orangtua. Peran guru justru dianggap berhasil ketika seorang anak bisa menjadi pembelajar sejati, orang yang mampu belajar secara mandiri.

7. Keberhasilan belajar tidak cukup dilihat dari nilai saja

Nilai ujian, khususnya ujian tertulis (paper pencil test) hanya mengukur sebagian kecil hasil belajar. Keberhasilan belajar sesungguhnya adalah perilaku dan karya anak. Karena perilaku dan karya membutuhkan keseluruhan hasil belajar untuk mewujudkannya. Hasil berupa perilaku dan karya punya dampak jangka panjang bagi kehidupan anak.

8. Belajar sepanjang hayat bukan saat bersekolah saja

Sekolah memang memfasilitasi proses belajar anak. Tapi belajar tidak hanya penting dilakukan ketika anak sekolah. Belajar penting juga dilakukan anak di luar sekolah bahkan ketika sudah lulus sekalipun. Pada jaman informasi ini, kemampuan terpenting yang dibutuhkan ketika bekerja adalah kemampuan belajar. Hanya mereka yang belajar sepanjang hayat yang dapat menghadapi perubahan dan tantangan jaman.

 

Leave a Reply