3 Hal yang Wajar Terjadi pada Si Remaja

Sepanjang Juni ini, di keluargakita.com akan dibahas bagaimana menerapkan Disiplin Positif pada anak remaja. Setiap minggu akan ada dua materi yang diluncurkan di sini. Sebagai pembuka, mari memahami hal-hal yang wajar terjadi pada anak remaja. Jika anak remaja Anda mengalami hal yang sama, atau Anda punya cerita lain, silakan tambahkan di kolom komentar.

———

Menangani anak remaja memiliki tantangan tersendiri.  Tak sedikit perubahan perilaku yang dulunya sesuai dengan arahan orang tua, sekarang tidak.

Ketika anak tumbuh remaja, orangtua memiliki harapan yang tinggi terhadap anak.  Dengan bertambahnya usia, anak diharapkan akan menjadi lebih dewasa, mandiri, memiliki manajemen diri yang baik dan sebagainya.
Namun, pada kenyataannya ternyata tidak begitu.  Anak malah menunjukkan perilaku yang sebaliknya.  Konflik dan emosi biasanya mendominasi hubungan orang tua dan anak pada masa ini.  Bagi orangtua, masa remaja adalah masa yang sulit memahami anak. Sebenarnya apa sih yang terjadi pada mereka?

Di bawah ini adalah 3 hal yang wajar terjadi pada anak remaja:

1. Anak remaja kerap melawan kalau dikasih tahu. Orangtua baru ngomong sedikit, mereka sudah langsung mendebat dan merasa paling benar. 

Salah satu perilaku yang sesuai dengan perkembangan sosial emosional anak usia remaja adalah kritis dan berpikir kompleks (ribet).  Anak kerap merasa paling tahu dan ingin dianggap penting.   Hal ini membuat anak mudah menolak saran dan masukan.

2.  Anak jadi malas olahraga, padahal dulu senang banget kalau diajak lari pagi barengan. 

Ketika anak memasuki usia pubertas, perubahan hormon dan bentuk fisik sering menyebabkan anak tidak percaya diri akan bentuk tubuhnya.  Sebisa mungkin mereka memilih menarik diri atau menyembunyikan lekuk tubuhnya di balik baju yang kebesaran.

3. Anak remaja tidak punya empati.  Melihat orang tuanya repot, malah masuk kamar dan sibuk main gadget. 

Yang terjadi pada masa ini adalah anak cenderung sensitif atau perasa terhadap dirinya, tapi kurang sensitif terhadap orang lain.  Seluruh alam semesta hanya terfokus pada dirinya.  Bagaimana bisa membantu orang lain, kalau anak saja merasa tidak mampu membantu dirinya sendiri?

Leave a Reply