12 Jun 2015

Bukik: Beginilah rasanya jadi bapak, jadi orang tua …

Momen apa yang paling membuat Mas Bukik merasa, “Wah ini ya yang namanya jadi Bapak?”

Jadi kreditan rumah membuat mau tidak mau saya harus bekerja keras mendapatkan penghasilan tambahan selain dari gaji sebagai PNS. Akibatnya, saya jarang di rumah. Awalnya, saya anggap wajar saja sampai kemudian Damai menolak saya kecup pipinya. Setiap kali saya kecup pipinya, setiap kali pula ia menggunakan lengannya untuk membersihkan bekas kecupan saya seolah membersihkan kotoran. Terhenyak waktu itu. istri saya sudah mengingatkan Damai tapi tetap saja sikapnya tidak berubah.

Saya pun ngobrol dengan istri, kesimpulannya: bila ingin sikap anak berubah, maka saya harus mengubah sikap saya terlebih dahulu. Saya pun berusaha menciptakan kedekatan dengan anak. Saya berusaha mendongeng, meski saya bukan pendongeng. Saya mendongeng anak dengan modal nekat, saya hayati ceritanya dengan penuh ekspresi.

Saya ciptakan tokoh bernama Jempi dan Keling (Jempol dan kelingking) dengan suara unik. Jempi dan Keling ini yang mendongeng ke Damai. Mengapa? Karena Damai masih menjaga jarak dengan saya, tapi Damai menerima kehadiran Jempi dan Keling karena kesamaan sifat dengannya. Jadi ada fase Damai enggan berbicara dengan saya, tapi justru minta bicara dengan Jempi dan Keling. Iya ngobrol dengan jempol dan kelingking saya 😀

Momen itu yang menyadarkan saya, beginilah rasanya jadi bapak, jadi orang tua. Sikap-sikap kita sebagai orang tua tercermin pada sikap anak kita. Bila ingin anak berubah, maka orangtua yang harus berubah terlebih dahulu.

Apa yang paling berubah dari diri Mas Bukik sejak menjadi orangtua?

Saya itu orangnya emosional dan mudah marah. Tapi sejak punya anak, saya belajar keras untuk mengelola emosi saya.  Tidak mudah, saya masih tetap emosional, tapi yang usahakan adalah meski saya emosional tapi tidak pada anak. Alhamdulillah, hingga hari ini saya tidak pernah membentak Damai. Saya ingin Damai tumbuh dengan jiwa yang utuh, tanpa luka karena sikap emosional orangtuanya.

Bukik-Damai

Apa kenangan masa kecil yang paling bermakna sehingga ingin anak mengalami hal yang kurang lebih sama? 

Saya suka membaca. Apa saja saya baca, buku, majalah hingga tulisan di kaleng atau botol. Tapi waktu kecil, buku adalah barang langka. Saya sewaktu kecil tinggal di sebuah desa, Koya Barat di Papua yang berjarak 40 km dari kabupaten. Suatu hari ibu pamit berbelanja ke kota dan saya titip dibelikan buku. Tapi ketika pulang, ibu tidak membawa buku. Saya menangis. Tidak tahan dengan tangisan saya, esok harinya pergi ke kota lagi khusus untuk membelikan buku.  Saya terharu dengan usaha ibu sehingga saya akan berjuang menyediakan bacaan buat anak saya. Ketika ke luar kota, oleh-oleh yang paling sering saya bawakan buat anak adalah buku 🙂 

Leave a Reply