Memahami Cara Kerja Tubuh Anak dalam Mengenali Lapar & Kenyang

Memahami Cara Kerja Tubuh Anak dalam Mengenali Lapar & Kenyangfeatured

“Habisin dulu makanan kamu  yang di piring, baru boleh makan es krim”

“Kalau makanan yang di piring ini habis, mama kasih kamu main ipad 1 jam!”

Kekhawatiran orangtua tentang apakah anaknya mau makan atau tidak, tanpa sadar mendorong sikap memaksa bahkan “menyogok”  anak agar mau makan.  Metode itu mungkin saja berhasil pada saat itu, namun tidak efektif untuk jangka waktu yang lama, karena orangtua tidak selamanya bisa mengontrol atau menyogok.

Pola makan yang terbentuk akibat dipaksa, akan membuat anak tidak terbiasa merasakan lapar dan kenyang secara alami.  Ketidakmampuan anak dalam merasakan kenyang dan lapar ini, menimbulkan resiko anak makan berlebihan dan memiliki resiko kelebihan berat badan atau obesitas di masa dewasa.

Proses makan membutuhkan sikap regulasi diri, misalnya secara emosional, bayi akan menangis sebagai bentuk reaksi terhadap rasa lapar.  Latihan regulasi diri ini dimulai sejak pemberian ASI, karenanya masa 0-2 tahun sangat penting dalam pembentukan pola makan yang baik.

Regulasi diri adalah kemampuan anak untuk mengontrol fungsi tubuh, emosi dan fokus terhadap sesuatu (Shonkoff dan Phillips, 2000). Anak yang memiliki sikap regulasi diri ketika makan, secara alami akan memiliki pola makan yang sehat, karena mereka percaya akan kebutuhan alami tubuhnya.

Masa kritis untuk membangun regulasi diri adalah masa prasekolah, di mana anak belajar untuk mengontrol pola makan mereka dengan mengatur kapan dan berapa banyak serta pilihan makanan yang mau mereka konsumsi.

Hal-hal mengenai pola makan pada anak yang perlu diketahui orang tua:

  1. Kalau makannya tidak habis, Mama nggak kasih kamu biskuit cokelat. Hal ini tidak hanya mengajarkan anak untuk makan berlebihan, namun juga membuat anak tidak percaya akan rasa lapar dan kenyang alami.
  2. Memberi makanan sebagai reward atau hadiah pada anak ketika sedang sedih atau merasa kecewa, akan mengajarkan anak untuk makan berdasarkan emosi.
  3. Kesukaan anak terhadap makanan berubah-ubah.  Hari ini mungkin anak sangat suka, namun besok bisa saja ia merasa bosan.
  4. Anak akan melewati tahap perkembangan yang melambat pada usia tertentu, di mana ia akan mengurangi asupan kalori yang masuk ke tubuhnya.  Hal ini normal dan tidak berarti anak menjadi “picky eater”.
  5. Semakin kita memaksa anak makan, semakin sedikit yang ia makan.  Memaksa anak untuk makan tidak hanya membawa trauma sendiri bagi anak, namun juga membuat makanan yang masuk ke mereka pun sedikit.

Simak juga postingan sebelumnya, Salah Kaprah Seputar Makan.

About the author

Keluarga Kita

Semoga kami bisa menjadi teman seperjalanan yang asik untuk para orangtua. Silakan berkeliling, selamat membaca :)

Add comment