Tuki: “Saya pengen dilihat oleh anak sebagai bapak yang keren … “featured

Sepintas lalu, Priambodo Nugroho atau Tuki tampak seperti bapak-bapak muda beranak satu biasa. Yang tidak biasa adalah ‘profesi’ resminya sebagai bapak rumah tangga. Ikuti ceritanya membesarkan Yatha Vaga bersama istrinya, Cita Febronia Utami, di 24Q kali ini.

Apa cita-cita waktu kecil? Sekarang terwujud enggak?

Cita-cita saya nggak pernah jelas dari dulu. Sampai sekarang juga belum jadi apa-apa. Jadi enggak terwujud.

Gimana dulu ketemunya sama pasangan? Siapa naksir duluan?

Kami ketemu waktu masih kuliah. Waktu itu bikin acara bareng lintas fakultas. Saya mewakili Fisipol, istri saya mewakili Ekonomi. Cita yang naksir duluan, soalnya, saat itu, saya udah punya pacar.

Apa reaksi pertama pas test pack istri positif? 

Stress, panik, trus nyari tempat makan.

Ada persiapan khusus buat menyambut bayi? Ikutan kelas atau just go with it?

Rajin check-up ke dokter dan sibuk memikirkan biaya persalinan. Sedikit senam hamil sisanya just go with the flow, hard flow.

Apa yang paling diinget pas istri melahirkan?

Saya, Cita, dan Dokter kami kompak untuk lahiran normal. Tapi tiap Istri kontraksi, Suster & semua keluarga dekat malah encourage buat operasi caesar aja. Paniknya dobel walau akhirnya tenang karena berhasil lahir normal.

Gimana kehebohan bulan-bulan awal punya bayi? Ketiduran di kantor nggak?

Masa awal punya bayi bikin kami punya istilah baru ‘’ngeteng tidur’’. Jadi tidurnya bener-bener shift-shift-an dan sebentar-sebentar. Kebeneran kerjaan ga ada jam kantor jadi ketiduran, tapi di rumah.

Apa yang dilakukan anak yg bikin bengong sebengong-bengongnya? 

Pertama kali saya ajak ke pemakaman untuk kirim doa teman yang sudah meninggal, terjadi percakapan ini:

Yatha: ”Who is that?”

Me: ”My friend”

Yatha: ”What is he doing there?”

Me: ”He is sleeping”

Yatha: ”Why don’t he wake up?”

Me: ”No. He won’t. Forever”

Yatha: ”Why?”

Me: ”He is happy down there”

Lalu Yatha mendatangi nisan dan menendang-nendang nisan sambil teriak ”HEY DUDE, WAKE UP. YOU WAKE UP!”

Apa yang paling mengagetkan antara “ekspektasi” dengan “realita” saat punya bayi?

Mungkin terdengar lucu tapi yang paling bikin saya kaget justru masalah pemilihan nama. Saya golongan yang mulai mencari nama anak setelah si anak lahir. Jadi belum saya persiapkan jauh hari. Awalnya berpikir pasti menyenangkan. Pilih satu dari ratusan nama bermakna indah. Pada kenyataanya, bikin saya sangat tertekan. Rasanya harus pilih nama yang bener, jangan sampai salah karena ini menyangkut kehidupan si anak sampai dia tua nanti. Rasanya semua pilihan dihantui ketakutan-ketakutan yang tidak masuk akal. Ditambah semua bertanya “namanya siapa?”. Komplit sudah.

Being a parent makes you a better person. Apa yang paling berubah dari diri sendiri setelah jadi orangtua?

Tanggung jawab. Dulu waktu masih belum punya anak, semuanya dipikir belakangan. Dulu careless banget soalnya. Dibawa santai. Sekarang ga bisa lagi. Semua dipikir detil dari A sampai Z. Perubahan yang berat dalam waktu sekejap.

Bapak-bapak biasanya jarang bisa multitasking.  Tapi, setelah punya anak, berapa banyak hal yang pernah dilakukan sekaligus di saat yang bersamaan dan apa aja?

Tidak banyak. Hanya ngerebus botol susu anak untuk sterilisasi, sambil tidur berdiri di depan kompor.

What is your weirdest 24 hour as a parent?

Waktu Yatha Vaga umur 9 bulan, Cita berangkat sekolah ke Norway. Nah, 6 bulan kemudian, saya & Yatha Vaga nyusul berdua. Seorang bapak muda yang Bahasa Inggrisnya cuma modal lirik lagu menggendong bayi berumur 15 bulan di pesawat selama belasan jam. Oiya, itu sekaligus penerbangan pertama saya keluar dari pulau Jawa -_-

Kalau punya kantong Doraemon, bakal keluarin alat apa untuk mengatasi tantangan orangtua yang mana?

Alat Penjaga Mood kali ya. Paling susah jaga mood soalnya.

Kegiatan bapak-anak apa yang paling favorit? Permainan?

Bed time stories. Reading a book for my son, and tickle him after that until he cries from laughter.

Now you’re a parent, how do you see your parents? What’s the best and the worst of them?

Orang tua saya sudah melakukan yang terbaik (di masanya). Mereka bisa membuat saya merasa sudah dibesarkan dengan maksimal tanpa harus 100% menduplikasi cara mereka. Membesarkan anak 25 tahun silam jelas berbeda dengan masa sekarang. Worst? Nothing.

If your family is a rainbow, warna apa yang yang mewakili setiap anggota keluarga? Kenapa begitu?

Tuki Merah, Cita Kuning, Yatha Vaga Ijo karena kami adalah Keluarga Rasta.

Kebisaan atau kelebihan apa yang dipunyai pasangan yang sangat dikagumi?

Saya paling ga bisa jawab kalo ditanya apa kelebihan istri. Tapi kalo waktu bisa diulang dan saya boleh milih, saya tetap milih Cita.

How do you deal with each other? Siapa yang nyamperin duluan kalo lagi marahan?

Waktu awal-awal berumah tangga, kalo marahan saya yang nyamperin duluan. Saya ga suka ribut soalnya. Sekarang hampir ga punya waktu buat marahan. Kalo pun sampe ada kasus, ga bakal lama. Otomatis didamaikan oleh anak.

Kegiatan apa yang seneng dikerjain berdua bareng pasangan?

Nongkrong berdua. Ngopi berdua. Ndengerin musik (dan mengomentarinya) berdua. 

Apa resep favorit keluarga?

Banana Bread.

Pengen dilihat anak sebagai bapak yang gimana?

Saya pengen dilihat oleh anak sebagai bapak yang keren. Saking kerennya hingga dia tak pernah membayangkan punya bapak lain yang lebih keren. Pinginnya sih gitu.

Gimana ceritanya bisa milih jadi bapak rumah tangga?

Sebenernya awalnya karena keadaan. Istri kuliah dan kami tinggal di Norway tanpa sanak-saudara. Jadi salah satu, yaitu saya, harus mengalah stay di rumah ngerawat anak. Baru setelah Cita habis kuliah teori dan mulai tesis (yang bisa dikerjakan di rumah), gantian saya mulai bekerja jadi karyawan dengan jam kerja. Setelah tau enaknya punya waktu bareng anak, hal itu jadi pilihan kami. Salah satu stay di rumah. At least sampai anak umur 5-6 tahun. Habis itu mungkin bisa sibuk dua-duanya. Berlomba adu kecepatan layaknya orang tua muda normal lainnya. Yang jelas waktu sekarang kami tidak mau melewatkan perkembangan anak kami. Lalu, ketika hal ini sudah menjadi pilihan, pun kami tetap bersyukur karena ternyata kami masih bisa memilih. Kami sadar banyak orang tua lain yang tidak punya pilihan. Mau ga mau harus bekerja dua-duanya.

Challenge terbesar apa yang dirasa dialami sebagai stay at home dad alias bapak rumah tangga?

Jelas tekanan sosial. Pandangan miring cenderung sinis jelas datang tiap hari. Hal ini makin terasa jika datang dari keluarga terutama keluarga dekat. Ingin rasanya menjelaskan semua alasan dari A sampe Z beserta keuntungan & keasyikan dari A sampe Z. Tapi alih-alih buang tenaga saya lebih suka cuek dan fokus ke anak saja. Pertentangan batin antara 2 sisi ego pribadi ini yang paling menantang.

What is your  favorite parenting mantra/quote?

Parenting without a sense of humor is like an accountant who sucks at math – Jill Krause (Baby Rabies).

Kalau rumah banjir, benda apa yang bakal diselametin duluan?

MAO (boneka kesayangan Yatha Vaga), satu set Thomas Train kesayangan Yatha Vaga, Sepatu Dr. Martens saya.

Teruskan kalimat ini: Nak, nanti kalau sudah besar kamu …

Nak, nanti kalo sudah besar kamu harus bisa nyetir traktor sama truk gandeng ya. Kayaknya susah apalagi mundurin truk gandeng. Papa ga bisa nyetir dua-duanya.

What is your happiest moment as a parent?

Every night when kiddo drinks his bottle of milk while laying on my chest.

What is your ultimate wish as a parent?

Jadi orang tua yang bisa membesarkan dan mendidik anak dengan layak dan bangga sehingga kala tiba waktunya dia besar nanti, dia merasa bangga punya kami sebagai orang tuanya.

About the author

Keluarga Kita

Semoga kami bisa menjadi teman seperjalanan yang asik untuk para orangtua. Silakan berkeliling, selamat membaca :)

Add comment