Dessy Ilsanty: “Being selfless …”

Dessy Ilsanty: “Being selfless …”featured

Dessy Ilsanty, ibu cantik ini sedang hamil anak ke-2 dengan jeda 12 tahun dari kehamilan pertamanya. Kebayang serunya sebentar lagi akan ada bayi mungil di tengah keluarga bersama Adrian Maulana, suaminya dan putri pertamanya, Sharla Martiza Maulanaputri. Sambil mengasuh Sharla yang sedang memasuki usia praremaja (wah perlu kita tanya nih tipsnya apa aja :)), Dessy yang juga psikolog ini mensyukuri profesinya karena dengan senang hati menjalaninya dan waktunya yang fleksibel. Mari simak cerita lengkapnya. Cemilan siapkan :))

Apa cita-cita waktu kecil? Sekarang terwujud enggak?

Dulu waktu SMP, ingin jadi Presiden :D.  Lalu, berubah pikiran karena sepertinya sulit. Ingin jadi Menteri saja :D. Lalu, berubah lagi karena semakin merasa tidak realistis.  Akhirnya, memutuskan bercita-cita untuk menjadi seorang insinyur elektro dan bekerja di perusahaan Panasonic, atau paling tidak berkecimpung di dunia utak-atik eletronik.

Namun setelah mengenal profesi psikolog, karena ada tante yang seorang Psikolog, menjadi tertarik pada profesi psikolog.  Jadilah ketika SMA memiliki cita-cita: antara menjadi insinyur elektro atau menjadi seorang psikolog.

Dan pada akhirnya, yang tercapai adalah menjadi seorang psikolog (yaa karena waktu daftar universitas ditolak dari jurusan Elektro dan diterima di jurusan Psikologi). Tetapi bersyukur sekarang menjadi psikolog, karena ternyata memang passion saya, dan bisa bekerja dengan waktu dan tempat yang fleksibel.

Jika cuma ada 2 kegiatan di dunia ini, masak dan bersih-bersih, bakal pilih yang mana?

Masak. Tanpa harus bersih-bersih alat masak yang habis dipakai.

Gimana dulu ketemunya sama pasangan? Siapa naksir duluan?

Pertama kali bertemu Adrian di warung tenda depan Al-Azhar Pusat.  Dikenalkan oleh teman yang berteman dengan Adrian karena mereka adalah anak AbNon Jakarta Pusat.  Pada waktu itu sedang masa pendaftaran AbNon dan saya diajak oleh teman tersebut.  Akhirnya saya mengikuti pemilihan AbNon dari wilayah Jakarta Pusat tahun 1998, sedangkan Adrian adalah Abang Jakarta Pusat tahun 1997.  Jadi, ceritanya dia senior.  Siapa yang naksir duluan? Hmmm.. pada masa itu sih karena Adrian adalah “senior”, jadi konon dia sok jaga wibawa dan sok galak gitu, deh. Tapi jujur, saya memang naksir, dan saya yang menelepon dia duluan. Ha! Gerak cepat dong. Toh dia kelihatannya berespon positif juga, jadi lanjut deeeeh. Kebetulan juga, rumah Adrian di Bintaro sedangkan saya di Pondok Indah. Jadinya kalau ada kegiatan di daerah pusat, bisa banget Adrian antar jemput saya karena memang melewati.  Modusnya cakep, ya?

Kapan & gimana memutuskan “this is the one” dan kemudian menikah?

Kalau ditanya bagaimana bisa tahu bahwa Adrian adalah “this is the one”-nya buat saya, jawaban saya adalah tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu juga.  Yang jelas bagi saya pada waktu itu adalah bahwa saya INGIN menjalani kehidupan rumah tangga bersama Adrian. Beberapa bulan setelah kami melakukan lamaran/bertunangan, dan itu artinya beberapa bulan sebelum kami menikah, saya pergi umroh bersama keluarga.  Di sana, do’a saya adalah, “Jadikanlah Adrian adalah memang orang yang Engkau pilih sebagai pasangan hidupku”. Jadi, bukan meminta petunjuk atau apa, tetapi justru meminta restu dan agar jalannya diperlancar oleh Allah SWT.

Setelah nikah, langsung pengen punya anak atau menunda dulu? Kompak nggak?

Saya memilih untuk menunda sebentar, dan diikhlaskan oleh Adrian.  Saya sempat minum pil KB, hanya selama 3 bulan.  Itu juga karena dokternya yang justru kurang ikhlas. Haha.  Sebenarnya si dokter kurang setuju kalau saya menunda, begitu juga dengan ibu saya.  Jadi lah hanya dibekali pil KB untuk 3 bulan saja.  Setelah lepas dari pil KB, bulan depannya hamil deh. Alhamdulillah.

Ada nggak alasan manjur yang rajin dipake saat hamil atau ngidam?

Hmm.. nggak ada sih. Soalnya saya nggak ada ngidam yang aneh-aneh juga. Biasa aja.  Dan juga saya sendiri tidak terlalu memanjakan diri ketika hamil.  Maksudnya, nggak ingin memperlakukan diri sendiri seperti orang yang lemah ketika hamil.  Selalu merasa harus bisa seperti biasa, walaupun ada kondisi-kondisi tertentu yang berbeda.

Ada persiapan khusus buat menyambut bayi? Ikutan kelas atau just go with it?

Pada waktu kehamilan pertama, hanya sempat ikut kelas senam hamil satu kali, karena minggu depannya keburu brojol. Nah, untuk kehamilan yang sekarang ini (which is selang 12 tahun kemudian), secara fisik saya mempersiapkan diri sedini mungkin.  Di awal kehamilan saya berusaha untuk tetap berolahraga seperti biasa, yaitu fitness dan sekali-sekali berenang, tapi dengan intensitas yang disesuaikan.  Setelah trimester kedua, saya mengikuti kelas Prenatal Yoga.  Menyadari bahwa kehamilan di usia 37 tahun itu tentunya berbeda dengan ketika hamil di usia 24 tahun, khususnya secara fisik, jadi saya mempersiapkan fisik agar supaya tetap kuat, karena berharap dapat melahirkan secara normal.

Apa yang paling diinget pas melahirkan?

Yang nungguin di tempat bersalin ramai! Haha.. Ada suami, ada ibu, ada ibu mertua, ada tantenya Adrian. Plus dokter dan suster-suster.

Gimana kehebohan bulan-bulan awal punya bayi? Masih sempat mandi?

Pada waktu anak pertama lahir, saya tinggal bersama orangtua.  Kakak dan adik laki-laki saya juga masih tinggal bersama.  Jadi banyak bala bantuan. Alhamdulillah semua turut membantu karena semuanya excited dengan kehadiran cucu pertama.

dessy2

Momen apa yang bikin ngerasa “Oh, gini ya jadi orangtua”?

Justru semakin terasa di saat-saat ini, ketika anak pertama berada di usia praremaja.  Saat dia membangkang, saat dia nggak mau mendengarkan omongan kita, saat dia sering minta mau main dengan teman-teman, saat dia kurang rajin di sekolah. Jadi terpikir, “Oooh, kira-kira gini kali ya perasaan orangtua saya dulu menghadapi saya”. Antara ingin memberi dia pelajaran agar anak menjadi orang yang lebih baik, tapi suka nggak tega ketika memberikan dia pelajaran atau konsekuensi atas perilaku negatifnya itu.  Tapi harus tega sih, demi si anak.

Apa yang paling mengagetkan antara “ekspektasi” dengan “realita” saat punya bayi?

Hmm .. apa ya? Nggak terlalu ada sih, karena dari awal sepertinya saya berpikir cukup realistis.  Hehehe.  Tapi jujur, sebelum si anak lahir, saya pernah berpikir,  “Bagaimana kalau nanti si bayi lahir, lalu saya tidak merasa si bayi ini lucu, sehingga saya kurang sayang sama si bayi?” Tapi ternyata, Alhamdulillah, kasih sayang saya ke anak mengalir secara alami dan sangat tulus.  Bahkan tiap menit saya gemesin dan cium-cium terus. Rasa sayang nya sampai bisa terasa secara fisik di dada.

Being a parent makes you a better person. Apa yang paling berubah dari diri sendiri setelah jadi orangtua?

Being selfless.

Multitasking. Berapa banyak hal yang pernah dilakukan sekaligus di saat yang bersamaan dan apa aja?

Maaf. Lupa.  Haha

What is your weirdest 24 hour as a parent?

Ketika ditinggal anak pergi fieldtrip sekolah keluar kota dan menginap.

Kalau punya kantong Doraemon, bakal keluarin alat apa untuk mengatasi tantangan orangtua yang mana?

Semua alat kebersihan rumah yang bisa bergerak dan bekerja sendiri memberesi seluruh rumah.

Now you’re a parent, how do you see your parents? What’s the best and the worst of them?

Jadi orangtua tuh emang mesti sabar banget, yaa. Sekarang baru bisa bayangin betapa orangtua saya, terutama ibu, bisa tahan dan sabar menghadapi saya yang keras kepala dan pembangkang ini. Cara atau pola asuh mereka mungkin bukan yang terbaik, apalagi setelah saya mendalami dunia psikologi. Hal itu pun disadari oleh mereka.  Namun, Alhamdulillaah, orangtua saya bisa dibilang berhasil membesarkan ketiga anak mereka dengan baik. Buktinya saya baik-baik saja, kan? Haha.

If your family is a rainbow, warna apa yang yang mewakili setiap anggota keluarga? Kenapa begitu?

Adrian = Merah, karena dia semacam lokomotifnya keluarga.

Dessy = Biru, karena saya yang bagian rileks dan kalem.

Sharla = Kuning, karena Sharla adalah pencerah keluarga.

Kebisaan atau kelebihan apa yang dipunyai pasangan yang sangat dikagumi?

Adrian itu pekerja keras. Memiliki determinasi yang kuat, selalu ingin menjadi orang yang lebih baik lagi.

How do you deal with each other? Siapa yang nyamperin duluan kalo lagi marahan?

Kita selalu mengupayakan bentuk komunikasi yang sebaik-baiknya.  Karena kita percaya bahwa komunikasi yang baik itu adalah kunci untuk menjalin hubungan yang baik.  Tapi biasanya kalau lagi marah, saya cenderung diam (karena berpikir keras), sedangkan Adrian tidak betah kalau diamnya terlalu lama, jadi seringkali Adrian sih yang memulai komunikasi.

dessy3

Kegiatan apa yang seneng dikerjain berdua bareng pasangan?

Olahraga, bisa fitness, renang, lari.  Lalu kami juga suka nonton ke bioskop, dan juga makan enak di restoran.

Apa resep favorit keluarga?

Japanese food

Kalau rumah banjir, benda apa yang bakal diselametin duluan?

Mobil.

What is your happiest moment as a parent?

Ketika dipeluk & dicium oleh anak & suami.

 What is your ulimate wish as a parent?

Agar anak-anak kami selamat dunia dan akhirat.  Amiin YRA.

 

About the author

Keluarga Kita

Semoga kami bisa menjadi teman seperjalanan yang asik untuk para orangtua. Silakan berkeliling, selamat membaca :)

Add comment